Berapa Gaji Penyiar Radio? Inilah Pengalaman Kerja Sebagai Penyiar Radio!

Siaran Radio Tidak Hanya Tentang Musik dan Iklan

Aku seorang mahasiswa akhir yang berdomisili disebuah kota kecil di daerah Tapal Kuda, karena semester ini aku hanya menempuh SKS yang relatif lebih sedikit dibandingkan semester-semester sebelumnya, aku iseng berniat mencari part time job atau pekerjaan sampingan. Seperti biasa dan sudah menjadi rutinitas, aku terus melakukan scroll up pada aplikasi instagram milikku, aku menyadari bahwa segala isi dunia ada di dalam dunia maya, termasuk juga lowongan pekerjaan. Saat itu atau bahkan hingga kini, aku memang mengikuti akun instagram yang memberikan informasi tentang lowongan pekerjaan atau biasa disingkat loker

sumber: pexels.com

Aku memperhatikan satu-persatu lowongan pekerjaan yang ada sembari mencari klasifikasi yang cocok buat mahasiswa sepertiku, lowongan kerja yang ada memang didominasi oleh Dibutuhkan Barista di Kafe A, Dibutuhkan Kurir Ekspedisi, Dibutuhkan Sales Promotion Girl, dan lain sebagainya. Meski begitu, ada satu lowongan pekerjaan yang menurutku sangat menarik dan menantang, yaitu Dibutuhkan Announcer Radio, aku baca persyaratannya yaitu “Laki-laki, usia maksimal 25 tahun, memiliki kendaraan sendiri, mampu berkomunikasi dan berbahasa Indonesia dengan baik, tertarik dengan dunia broadcasting, kreatif dan aktif di media sosial, berpenampilan menarik, berwawasan luas, dan tidak terikat kontrak kerja dengan perusahaan manapun”. 

Merasa ada informasi yang masih belum jelas, aku mengirimkan direct message ke akun instagram radio tersebut terkait dengan loker mereka bisa diisi oleh mahasiswa aktif sepertiku atau tidak, dan tak butuh waktu lama, mereka membalas direct message-ku tadi dengan kalimat singkat yang membuatku penuh harapan saat itu.

Sejenak aku kesampingkan terlebih dahulu kebahagiaan dan harapan-harapanku, berusaha fokus semaksimal mungkin melengkapi berkas Daftar Riwayat Hidup atau Curriculum Vitae (CV) formalku yang pertama. Saat itu adalah saat pertama kali bagiku melamar sebuah pekerjaan, sangat bersyukur hidup di era modern ini, sebab hampir di segala urusan dipermudah dengan adanya internet, dari sanalah aku tahu dengan detail apa saja yang harus dan tidak perlu aku tulis di Daftar Riwayat Hidup milikku. 

Perlu beberapa hari bagiku untuk melengkapi semua berkas yang diperlukan lalu kemudian mengirimkannya ke alamat yang tertera. Seminggu berlalu, tidur siangku saat itu terbangun karena nada dering handphone-ku yang berarti ada panggilan masuk, dengan mata yang masih sayu aku melihat kemudian menyadari bahwa nomor yang tertera bukanlah nomor pribadi, melainkan nomor kantor. 

Hal tersebut membuatku sumringah seketika, pasti dari kantor radio pikirku, tak perlu pikir panjang lalu aku mengangkatnya, dan benar saja bahwa penelpon tersebut merupakan admin kantor radio yang menghubungiku dengan tujuan memintaku datang ke kantor mereka untuk interview pada waktu yang telah mereka tentukan.

Hari itu aku bangun pagi, mungkin akan menjadi kebiasaan baru bagiku, dengan pakaian rapi aku menuju kantor untuk menghadiri sesi interview. Sesampainya di kantor, juga hadir beberapa pelamar lain yang ingin menjadi penyiar radio, cukup banyak sainganku saat itu sekitar 15-20 orang. Para pelamar masuk satu-persatu ke sebuah ruangan untuk interview. 

Singkat cerita, seminggu setelah interview aku dihubungi oleh admin kantor melalui telepon, ia menyampaikan sekaligus mengucapkan selamat bagiku karena aku diterima kerja di stasiun radio tersebut sebagai seorang penyiar. Perasaanku saat itu benar-benar bahagia, penuh angan-angan, seakan terbang menembus awan, aku merasa akan memiliki sebuah kebiasaan serta pengalaman baru yang berharga dan bermanfaat bagi banyak orang. 

Penyiar yang diterima ada 4 orang termasuk aku, kami berempat kemudian tergabung dalam sebuah grup whatsapp sebagai calon penyiar, dalam grup tersebut semua saling berkenalan dan ngobrol ringan sebagaimana pada umumnya dan dari sanalah pertama kalinya aku tahu bahwa di setiap stasiun radio ada seorang Music Director (MD). Isi grup whatsapp tersebut perlahan mulai serius oleh pembahasan jadwal training, setor foto untuk display, hingga pembahasan nama siar.

Baca Juga: Pengalaman Bekerja Sebagai Peternak Lele

MASA TRAINING

Setiap perusahaan yang baru menerima karyawan pada umumnya selalu memberikan sentuhan untuk menerapkan standart yang berlaku, salah satunya melalui training. Sedikit berbeda dengan perusahaan lain, seorang calon penyiar sepertiku tidak akan langsung on air begitu diterima, melainkan harus dibekali dengan kaidah-kaidah penyiaran, tata cara siaran, serta pemahaman tentang radio clock, log siar, dan lain sebagainya.  

sumber: pexels.com

Masa trainingku sebagai calon penyiar cukup lama, yaitu sekitar 1 setengah bulan sebelum aku menerima gaji pertama. Selama masa training, calon penyiar dikenalkan dengan semua program acara yang ada di stasiun radio tersebut dan harus memahami pemetaan genre dan jenis musik pada tiap-tiap program acara. Contohnya genre musik dangdut dan musik melayu hanya dapat diputar dalam acara A, genre musik Rock hanya dapat diputar di program acara B, lagu-lagu yang dirilis pada tahun 2000 kebawah atau biasa disebut lagu oldiest hanya dapat diputar di program acara C, dan seterusnya. Setiap stasiun radio pasti memiliki program acara dan jam siar yang disesuaikan dengan target pasar atau segmentasi mereka. 

Selain tentang program acara, saat masa training kami juga diberikan materi tentang radio clock, log siar, dan adlibs. Radio clock dapat dikatakan sebagai patokan bagi penyiar mengenai urutan pemutaran jingle, insert, announcement, iklan, hingga lagu. Log siar adalah jadwal yang berkaitan dengan pemutaran iklan, menjelaskan di menit berapa saja iklan harus diputar. Sedangkan adlibs adalah iklan yang harus dibacakan dengan improvisasi oleh penyiar dan tetap bertumpu pada poin utama pada iklan tersebut, pada umumnya adlibs dimulai setelah bridging yang dilakukan oleh penyiar agar tercipta transisi yang baik dari pembicaraan sebelumnya hingga iklan adlibs. Training saat itu tidak hanya tentang materi berupa teori semata, melainkan juga praktek yaitu pengenalan hardware sebagai alat siaran berupa komputer serta mixer audio

Setengah bulan masa training kami habiskan untuk mempelajari materi yang sudah aku jelaskan diatas. Satu bulan sisa training, masing-masing penyiar baru ditempatkan di berbagai program acara, saat itu kami mulai dibukakan kesempatan untuk announcement atau berbicara langsung secara on air meskipun masih diduetkan dengan penyiar lain yang lebih senior.

RESMI MENJADI PENYIAR

sumber: pexels.com

Aku sudah melewati berbagai tahap hingga bisa berada di titik ini, akhirnya aku resmi menjadi penyiar di stasiun radio. Gelar tersebut aku dapatkan setelah satu setengah bulan aku training dan melakukan kontrak kerja dengan perusahaan. Sejak mendaftarkan diri menjadi penyiar, beberapa kali aku berselancar melalui mesin pencari di internet dan berburu informasi mengenai gaji penyiar radio di berbagai daerah di Indonesia. 

Baca Juga: Cara Cepat Kaya Dari Youtube

Aku menemukan beberapa artikel yang aku cari, ada artikel yang menyebutkan bahwa gaji penyiar radio di DKI Jakarta bisa mencapai Rp.300.000 per-jamnya, ada juga artikel yang ditulis oleh seorang penyiar radio di Kota Makassar, ia menyebutkan gaji siarannya sekitar Rp.15.000 per-jamnya. Sejujurnya aku sungguh terkejut dengan kesepakatan yang mereka buat yang berkaitan dengan gaji penyiar, cukup menjatuhkan harapanku yang terlanjur diatas, karena ternyata gajiku sebagai penyiar disana hanya sebesar Rp.6.000 per-jamnya, sedangkan rata-rata penyiar hanya siaran selama 2-3 jam sehari, kemudian jika dikalkulasi, tiap penyiar hanya mendapatkan gaji Rp.12.000 hingga Rp. 18.000 per-hari. Saat itu aku memang cukup kecewa, meski pada akhirnya aku harus menyadari bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan sampingan, dan aku memutuskan untuk menandatangani kontrak kerja tersebut.

Hari pertamaku siaran sebagai penyiar resmi, aku ditempatkan di acara etnis yang hanya memutarkan musik-musik campursari, siarannya pun jam 04.00 WIB dan harus menggunakan bahasa Jawa halus atau krama inggil. Berasal dari keluarga Jawa tidak membuatku lihai dalam bertutur Jawa halus, karena sejak lahir aku dan keluargaku hidup di perantauan. Oleh sebab itu, siaran berbahasa Jawa halus menjadi kendala pertama bagiku, maka aku perlahan mempelajari cara bertutur menggunakan bahasa Jawa krama inggil. 

Program acara yang aku pegang adalah salah satu program acara yang tertua, bahkan para pendengar program acara tersebut membentuk sebuah paguyuban/perkumpulan pendengar kemudian menciptakan banyak lagu original mereka sendiri, sebagai penyiar yang memandu acara tersebut, aku merasa bangga. Aku sungguh menikmati hari-hari pertama siaran, bangun pagi, siaran, menerima salam-salam dari pendengar, memutarkan lagu request pendengar, hingga ngobrol langsung dengan pendengar melalui telepon on air. Ada satu momen berkesan ketika aku memandu program acara live show, kurang lebih 30 orang pendengar datang ke studio untuk karaoke live on air, mereka semua memberikan kesan baik bagiku, rata-rata dari mereka sudah berumur, mimik wajah mereka mengatakan bahwa mereka benar-benar bahagia, banyak dari mereka yang melambaikan tangan kepadaku sambil memanggil-manggil namaku, mereka semua berlomba-lomba untuk memberikan makanan/minuman untuk para penyiar, bagi mereka itu adalah simbol persaudaraan/silaturahmi.

 Ada seorang orang ibu pendengar berusia sekitar 60 tahun mendatangiku, rupanya ia adalah orang yang selama ini sering berinteraksi denganku ketika siaran, bercerita bahwa ia tinggal seorang diri di rumahnya, maka dari itu ia selalu mendengarkan semua program acara di radioku selama 22 jam, tujuannya sederhana, agar ia tak merasa kesepian.  Sejak saat itu, sebagai penyiar radio, aku merasa sebenarnya banyak makna yang ada dalam siaran, tidak sekedar memutar lagu dan iklan, tapi juga perasaan. Aku selalu berdoa dan berharap setiap waktu yang aku dedikasikan untuk siaran menjadi berkah dan manfaat bagi banyak orang. Momen tersebut berhasil meleburkan kekecewaanku diawal karena aku merasa memiliki alasan lebih dari sekedar gaji.

Berbulan-bulan berlalu, beberapa kali aku pindah program acara karena mungkin pihak manajemen merasa aku masih belum mendapatkan program acara yang cocok dengan style siaranku. Sejujurnya ada satu hal yang sebenarnya tidak ingin aku tulis, tetapi pada akhirnya aku memutuskan untuk menulisnya karena itu juga bagian dari pengalaman, agar para pembaca bisa mendapatkan gambaran tentang bekerja sebagai penyiar radio. 

Setelah beberapa bulan siaran di radio, aku memilih resign karena aku merasa lingkungan kerja yang kurang cocok bagiku, dapat diartikan bahwa ternyata tuntutan perusahaan lebih dari yang aku kira, tapi berbanding terbalik dengan apa yang mereka berikan, dan hampir semua penyiar merasakan hal yang sama meski banyak yang memilih bertahan karena satu dua alasan. 

Namun tidak bagiku, karena menurutku kerja adalah sama-sama membutuhkan, perusahaan butuh sumber daya manusia, sedangkan karyawan butuh uang dan pengalaman, bagiku tak ada salahnya money oriented dalam bekerja karena hal tersebut adalah normal. Sekian ceritaku, yang pernah berperan sebagai penyiar di salah satu stasiun radio swasta di daerah Tapal Kuda, semoga bermanfaat.

Posting Komentar

© Creativeseen. All rights reserved. Developed by Jago Desain